[Liputan ISG #3] Jakarta: Dunia Shopping Mall

ISG #4

Hari Kamis, 24 Februari 2011, Indonesian Scholars Gathering yang ke-3 kembali diadakan. Pembicara pada diskusi kali ini adalah rekan kita, Ivan Kurniawan Nasution dan Rizky Supratman. Ivan dan Rizky saat ini sedang menempuh pendidikan lanjut di Berlage Institute, Rotterdam. Acara dimulai pukul 17.30 dan dihadiri oleh kurang lebih 40 orang peserta diskusi. Topik yang dibawakan pada hari itu sungguh sangat menarik karena berkaitan erat dengan masalah-masalah yang tak habis-habis di Jakarta yaitu BANJIR dan MACET . Oleh banyak orang, MALL menjadi salah satu penyebab kenapa kedua masalah tersebut tidak dapat ditanggulangi.

Diskusi ini oleh Rizky dan Ivan dibagi menjadi 3 bagian, Shopping Mall & Economy, Shopping Mall & Tata Kota, dan Shopping Mall & Society Behaviour. Jakarta ternyata merupakan kota dengan MALL TERBANYAK DI DUNIA. Jumlah mall mencapai 130 mall untuk kawasan Jabodetabek! Bahkan di beberapa daerah di Jakarta seperti di Kelapa Gading dengan radius sekitar 2 km saja, terdapat beberapa mall dengan skala global dan regional. Banyaknya mall saat ini tak hanya membuat mereka memakan pasar-pasar tradisional tapi juga memakan pasar mall satu dengan lainnya, tak sedikit mall yang akhirnya menjadi terbengkalai dan tak terurus. Padahal di peraturan daerah sendiri sudah dijelaskan bahwa keberadaan pasar modern tidak boleh memakan keberadaan pasar tradisional.

Pertumbuhan pesat mall di Indonesia tak lepas dari persepsi bahwa mall merupakan suatu indikator kemajuan sebuah kota. Pertumbuhan pesat mall juga didorong oleh fakta bahwa 6 triliun rupiah dihambur-hamburkan di Singapore oleh masyarakat Indonesia. Stevanus Ridwan, Direktur Asosiasi Shopping Mall Indonesia, mendorong pembangunan mall di Indonesia dengan tujuan untuk membuat Indonesia a better place to shop than Singapore. Hal ini juga didukung oleh pemerintah daerah lewat pembangunan 100 mall baru yang dicanangkan oleh Sutiyoso pada tahun 2006. Disisi lain hannya 500 ribu orang di Jakarta yang ternyata mampu berbelanja di mall. Kemanakah 9 juta orang lainnya berbelanja?

Mall pada dasarnya dibangun untuk membangun hub-hub baru untuk memecah konsentrasi suatu wilayah. Kota dibangun tak hanya oleh pemerintah saja namun oleh banyak aktor lainnya. Namun, pertumbuhan kota Jakarta saat ini justru didominasi oleh ide-ide dari sektor privat yang lebih memfokuskan kepada interior saja, tidak memikirkan kota itu secara keseluruhan. Tak heran apa bila ruang terbuka hijau di Jakarta semakin terkikis.

Mall saat ini semakin berevolusi menjadi kota itu sendiri, dimana segala ruang publik tersedia di mall, mulai dari tempat tinggal, sekolah, bahkan tempat beribadah pun ada.. Salah satu contohnya adalah Mall of Indonesia yang bahkan di atas (roof top) mall itu sendiri dibangun sebuah kompleks perumahan, St.Moritz, Mall Taman Anggrek, dan lainnya. Semua aktivitas menjadi bisa dilakukan di mall. Kadang memang bagus dengan memusatkan segala bentuk aktivitas di dalam suatu wilayah, namun semua bentuk aktivitas ini diboncengi dengan belanja.

Mall seakan-akan menjadi seperti Disneyland, kumpulan dari berbagai macam wahana di dalam suatu wilayah. Shopping mall saat ini juga disebut-sebut sebagai Cathedral of Consumerism dengan agamanya yaitu berbelanja. Dengan begitu banyaknya mall yang menawarkan kelengkapan hidup bagi konsumer, Jakarta seakan-akan justru merupakan sebuah kota dengan kumpulan kota-kota kecil di dalamnya.

Saat ini, fungsi dari public space itu cenderung berubah. Dulu orang-orang berkumpul di sebuah lapangan luas atau di taman, duduk di bawah pohon, kemudian bersosialisasi. Saat ini, akibat dari keberadaan mall sebagai public space, kita didorong untuk melakukan konsumsi (berbelanja) sembari melakukan aktivitas publik. Berbagai macam offering dari mall untuk mendorong kita berbelanja. Tanpa kita datang ke shopping mall, mereka mendatangi kita.

Salah satu hal yang patut dicermati dengan keberadaan shopping mall ini adalah behaviour kita dalam berbelanja. Kita harus mampu berbelanja dengan lebih cermat, variatif, dan pintar serta sesuai dengan preference kita masing-masing, tidak berlebih-lebihan.

(Gregorius Jonathan T.)

 

This entry was posted in Indonesian Scholar Gathering (ISG), Liputan Kegiatan and tagged , . Bookmark the permalink.