Laporan Kegiatan ISG edisi April 2012

Indonesian Scholar Gathering (ISG) edisi April kali ini mengangkat tema “Industri Hulu Minyak dan Gas Bumi Indonesia: Pemahaman Dasar Kontrak Bagi Hasil Migas.” Bertempat di gedung H, Universitas Erasmus-Woudestein, pada tanggal 20 April 2012, ISG kali ini dihadiri 17 peserta. Hadir sebagai pembicara di ISG kali ini adalah Wisnu Wardhana. Menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas Indonesia, saat ini Wisnu sedang menempuh S2 di Accounting, Auditing, and Control Erasmus School of Economics. Wisnu sendiri sampai saat ini masih aktif bekerja di BP Migas.

Diskusi dibuka dengan sejarah singkat mengenai minyak dan gas di Indonesia. Dilanjutkan dengan penjelasan lebih jauh mengenai desain dan macam kontrak kerjasama migas, hukum yang melingkupi aktivitas eksplorasi dan eksploitasi migas, serta operational lifting. Alasan dibalik keberadaan hampir seluruh perusahaan eksploitasi migas adalah badan asing juga dipaparkan. Wisnu berpendapat hal ini disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi yang dimiliki badan asing dan besarnya modal (baik itu materi maupun sumber daya manusia yang terlatih) untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi migas. Wisnu juga menjelaskan secara detail mengenai jenis kontrak kerjasama migas di Indonesia, Production Sharing Contract (PSC), dimana perusahaan yang melakukan proses eksploitasi diharuskan untuk ‘menyetor’ hasil produksi mereka dalam jumlah tertentu pada pemerintah dan sebaliknya, pemerintah wajib mengganti semua biaya yang diperlukan selama proses eksploitasi berlangsung (cost recovery).


Selama diskusi berlangsung, antusiasme para peserta tampak tinggi. Hal ini terlihat dari interaksi tanya jawab dengan pembicara yang berlangsung dari dimulainya acara sampai selesai. Bahkan beberapa peserta tampak masih berdiskusi dengan Wisnu saat acara ISG kali ini sudah ditutup. Adapun beberapa interaksi mengenai mengapa ekspor minyak ke luar negeri yang harusnya bisa dipakai dalam negeri sendiri. Wisnu menjawab hal ini dikarenakan kilang minyak di Indonesia masih sangat terbatas. Terbatas yang dimaksud bukan dalam arti jumlah, tetapi dalam arti spesifikasi minyak yang dapat diolah. Kilang minyak di Indonesia tidak dapat mengolah minyak yang terlalu bagus atau yang terlalu jelek, maka dari itu ekspor minyak ke luar negeri menjadi jalan alternatif. Yang menarik dari diskusi ISG kali ini adalah banyaknya pengetahuan lebih dalam mengenai dinamika industri minyak di Indonesia. Seiring dengan maraknya pro-kontra kenaikan harga BBM bersubsidi di Indonesia, pengetahuan yang didapat dari ISG kali ini cukup menyadarkan kita untuk lebih bijak dalam menilai secara objektif publikasi-publikasi yang beredar dan banyaknya peran politik di dalam keputusan kenaikan tersebut.

This entry was posted in Indonesian Scholar Gathering (ISG), Liputan Kegiatan. Bookmark the permalink.