Laporan ISG Edisi Juni: Development and Related Disorder

ISG terakhir dibawah kepengurusan Farzikha diselenggarakan pada tanggal 14 Juni 2012. Diikuti oleh sekitar 18 orang. Acara berjalan lancar diiringi oleh rasa keingintahuan yang tinggi dari para peserta. Topik yang diberikan pada ISG kali ini sedikit berbeda dari ISG edisi sebelum-sebelumnya. Hadir sebagai pembicara dalam ISG edisi Juni ini adalah Dr A. Zulfa Juniarto, M.Si., Med., SpAnd yang sedang menempuh pendidikan PhD di Erasmus MC, Rotterdam. Berpengalaman sebagai Ketua Departemen Biologi Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Dr Zulfa akan membagi ilmu dan pengalamannya mengenai perkembangan perkembangan jenis kelamin manusia dalam kandungan dan kelainan yang dapat terjadi pada fase perkembangan tersebut.

Perkembangan sex seseorang itu sudah dimulai sejak awal kehamilan, tepatnya minggu ke enam kehamilan dimana akan terbentuk lebih jelas apakah dia akan menjadi seorang laki laki atau perempuan. Kromosom, gen, hormon, receptor dan lain lain faktor banyak terlibat dalam perkembangan organ genital ini. Tak jarang dalam perjalanannya mengalami gangguan sehingga organ kelamin menjadi tidak jelas apakah laki laki atau perempuan. Hal ini juga berdampak pada penentuan gendernya. Disini akan dibedakan dengan apa yang disebut waria, banci atau transeksual dan homoseksual.

Pengakuan sebagai laki-laki atau perempuan oleh orang-orang disekeliling kita adalah kebutuhan dasar dan essensial dalam hidup seorang manusia. Ketika bentuk fisik untuk bisa dan valid dikategorikan sebagai laki-laki atau perempuan tidaklah jelas (dikarenakan kelainan pada masa pertumbuhan kelamin tersebut) maka munculah pertanyaan besar. Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada pembicara setelah pemeriksaan adalah “Dok, apakah saya laki-laki atau perempuan?”. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan atau terpokirkan oleh semua dari kita yang normal. Hal lain yang menjadi lebih dilemma adalah ketika, seseorang mempunyai fisk wanita dan jiwa wanita, mempunyai payudara, namun tidak mempunyai rahim dan mempunyai alat kelamin laki-laki dan akan segera menikah dengan seorang laki-laki.

Apakah jika orang tersebut menikah, akankan menjadi pernikahan normal (wanita dengan laki-laki) atau menjadi pernikahan sesame jenis? Disatu sisi, Indonesia yang mempunyai dasar Pancasila sila pertama yang mana berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menghadapi tantangan besar dalam memecahkan masalah ini. Disisi lain ada jutaan manusia yang butuh akan kejelasan akan jenis kelamin dan jati diri. Untuk itu, biarlah masing-masing individu yang menilai.

Dilaporkan oleh

Ardine Agristi

This entry was posted in Indonesian Scholar Gathering (ISG), Liputan Kegiatan. Bookmark the permalink.