ONE Indonesia: Sebuah Apresiasi Kebudayaan Indonesia di Negeri Kincir Angin

Semangat pelajar Indonesia di kota Rotterdam untuk menunjukkan kebudayaan nenek moyang di negeri perantauan tidaklah luluh dengan berbagai keterbatasan, untuk membanggakan Nusantara. Bertempat di Thalia Lounge Rotterdam, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Rotterdam melaksanakan Festival Kesenian Indonesia yang mendapat banyak apresiasi positif dari penonton yang disugguhkan dengan kebudayaan asli Indonesia pada hari Sabtu, 24 Mei 2014.

 

ONE Indonesia dengan bertemakan “Het huis van Tante Soen” atau Rumah Tante Soen, mengambil atmosfir Indonesia pada tahun 1950an dengan gaya retro yang diblend dengan modernisasi musik dan tari melalui opening act melibatkan sekitar 30 penari yang membawakan tarian seperti tari Saman dari Aceh hingga tari perang Velabhea dari Papua. Tarian yang dibawakan dikoreografikan oleh talenta Indonesia Nadira Febrianti dan Indah Rahmawati dengan kerja keras selama satu bulan, dan mampu membuat penonton berdecak kagum akan keragaman tarian Indonesia. Opening act, seperti yang disebutkan oleh Ketua Panitia Anathasia Widiastuti bertujuan untuk mengiring pengunjung melalui kesenian Indonesia dari pulau ke pulau dengan mempertunjukan keindahan gerak tari yang unik dari setiap daerah.

 

Selain menyajikan opening act melalui tarian, PPI Rotterdam bekerjasama bersama Rumah Budaya Indonesia dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan Obin House of Batik, juga memberikan pengalaman asli Indonesia dalam Batik Workshop, beserta pameran batik dan Wayang Golek yang dibawa langsung dari Indonesia. Bapak Hendra, seniman batik dari Yogyakarta dan Bapak Benny dari Museum Tekstil Indonesia sengaja didatangkan ke Rotterdam untuk lebih memberikan cita rasa kesenian nusantara di acara ONE Indonesia tahun ini. Pameran Batik dan workshop juga dilaksanakan dua hari sebelumnya bertempat di kampus Erasmus University Rotterdam dan berhasil menarik perhatian mahasiswa yang melewati pameran.

 

Pelajar Indonesia di Rotterdam juga tentunya ingin menunjukan kesenian mereka melalui Tattoo Booth yang disediakan sepanjang acara, dan menarik beberapa pengunjung yang ingin mencustomised tatto temporari mereka di acara ini. Pengunjung juga dimanjakan dengan kehadiran Photo Booth yang memberikan kesempatan mendokumentasikan foto mereka dengan segala hiasan retronya. Terlihat 500 pengunjung yang berasal dari berbagai kota di Belanda seperti Den Haag, Groningen, Enschede, tidak menyia-nyiakan kesempatan berfoto bersama dengan teman terdekat atau keluarga.

 

Perjalanan Tante Soen, karakter imaginari yang ingin membawa pengunjung kepada masa kecilnya di Indonesia tempo dulu, juga diawali dengan workshop Poco-poco dan Penampilan Merpati Putih dari kota Den Haag melalui pencak silat. Antusiasme penonton juga disalurkan melalui kemeriahan perlombaan khas 17 Agustusan, seperti lomba makan kerupuk, memasukan paku dalam botol, dan juga limbo. Dengan senang pengunjung yang meliputi penduduk asli Belanda mengikuti perlombaan dan memenangi beberapa diantaranya. Sesuai dengan tema, karaoke ala tempo dulu juga memeriahkan acara. Tidak kalah bersaing, volunteer dari warga asli Belanda yang beristrikan wanita Indonesia hingga pelajar Indonesia berusia 19 tahun menyanyikan lagu Indonesia dimulai dengan Koes Ploes, Peterpan dan diakhiri dengan Tulus.

 

One Indonesia mencapai puncak acara dengan Accoustic Night yang merupakan perlombaan band-band dari beberapa kota di Belanda. Accoustic Night sendiri yang merupakan highlight dari acara ONE Indonesia, dimenangkan oleh The Cabinets dari kota Den Haag dan berhak atas uang tunai yang disponsori oleh Indomie dan Sinar Sosro. ONE Indonesia kemudian dilanjutkan dengan penampilan juara Accoustic Night 2013, Gerald Gifford dan Guest Star Monita Tahalea yang mampu menyihir penonton dengan rasa nationalisme dan romantisme melalui lagu-lagu yang dinyanyikan. Penonton terlihat menikmati suasana yang diciptakan dengan bernyanyi bersama dan dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan Thomas Litaay, pelajar yang berasal dari kota Den Haag bernyanyi bersama di panggung dengan lagu Kekasih Sejati bersama Guest Star Monita Tahalea.

 

Sebagai hal yang dinanti-nanti masakan Indonesia yang disediakan oleh Jajanan Pasar-Deni’s Kitchen juga memberikan rasa tersendiri kepada lidah pengunjung yang sudah ingin dimanjakan dengan Pempek Palembang, Bakwan Malang, dan Es Cendol. Kepanitiaan beranggotakan 31 orang yang merupakan anggota dan pengurus PPI Rotterdam, ini berusaha mengapresiasi dan mempromosikan keragaman Indonesia dengan segala aspeknya sebagai bukti kecintaan terhadap nusantara, negeri tercinta.

 

Ditulis oleh: W. D. Lokantara

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.